Hubungan Sosial Budaya dengan Sikap Remaja terhadap Pendewasaan Usia Perkawinan

Authors

  • Iit Ermawati Stikes Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong, Indonesia
  • Bawon Nul Hakim Stikes Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong

DOI:

https://doi.org/10.33006/ji-kes.v5i2.390

Abstract

Abstrak

Perkawinan usia dini merupakan permasalahan yang masih banyak terjadi di  masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Lingkungan dan budaya sekitar remaja yang sering terjadi perkawinan usia dini, dapat menghambat sikap remaja untuk mendewasakan usia perkawinan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan sosial budaya dengan sikap remaja terhadap pendewasaan usia perkawinan di Desa Sindet Probolinggo. Jenis penelitian yang diterapkan adalah observasional dengan rancang bangun crossectional study. Tempat penelitian ini di Desa Sindetanyar Kabupaten Probolinggo pada bulan Desember tahun 2020 – April tahun 2021 dengan jumlah  populasi adalah 50 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, analisis uji statistik yang digunakan spearman rank. Variabel independen sosial budaya meliputi: ada tidaknya tradisi atau kebiasaan anggota keluarga, teman, atau tetangga sekitar yang menikah kurang dari 21 tahun atau 25 tahun, variabel dependen: sikap remaja terhadap pendewasaan usia perkawinan. Hasil analisis antara hubungan sosial budaya dengan sikap remaja terhadap pendewasaan usia perkawinan tidak ada hubungan signifikan  (р = 0,329 > ɑ, ɑ=0,05). Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan antara sosial budaya dengan sikap remaja terhadap pendewasaan usia perkawinan di Desa Sindetanyar Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo.

 

Kata kunci  : sosial budaya,  sikap, pendewasaan, perkawinan

 

Abstract

Early marriage is a problem that still occurs in many communities, especially in the countryside, but it is not denied also in the city, In addition, the environment and culture around adolescents that often occur early marriage can inhibit adolescent attitudes to mature the age of marriage. The aim of the study was to analyze socio-cultural relationships with adolescent attitudes towards maturation of marriage age in the village of sindet probolinggo. The type of research applied is observational with crossectional study design. This research site in the village of Sindetanyar probolinggo regency in December 2020 - April 2021 The population is 50 people. The sampling technique used is total sampling. Data collection using questionnaires, statistical test analysis used by spearman rank variables independent socio-cultural include: Whether or not the traditions or habits of family members, friends, or neighbors who are married for less than 21 years or 25 years, dependant variables: adolescent attitudes towards maturation of the age of marriage. The result of the reflection between socio-cultural relationships and adolescent attitudes towards maturation of the age of marriage is not significant (Ñ€ = 0.329 > É‘ É‘ = 0.05 ) The conclusion of this study has no relationship between socio-culture and adolescent attitudes towards maturation of marriage age in Sindetanyar Village Besuk District Probolinggo.

 

Keywords : socio-culture, attitude, maturation, marriage

Author Biography

Iit Ermawati, Stikes Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong

Prodi DIII Kebidanan

References

Saifuddin, A. (2011). Sikap manusia : Teori dan Pengukuranya. Pustaka Pelajar.

BKKBN (2012). Pernikahan Dini Pada Beberapa Provinsi di Indonesia: Dampak Overpopulation, Akar Masalah dan Peran Kelembagaan di Daerah.

Citrawati, E. (2019). Pandangan MUI NTB Terhadap Aturan Pendewasaan Usia Pernikahan Di Nusa Tenggara Barat. Qawwam, 12(2), 132–151. https://doi.org/10.20414/qawwam.v12i2.794

Dumilah, R., Fariji, A., & Petralina, B. (2019). Pengaruh Teman Sebaya, Lingkungan Keluarga Dan Budaya Terhadap Persepsi Remaja Tentang Perkawinan Dibawah Umur. Jurnal Ilmiah Bidan, IV(1), 29–35.

Follona, W., Raksanagara, A. S., & Purwara, B. H. (2014). Perbedaan Pendidikan Kelompok Sebaya tentang Pendewasaan Usia Perkawinan di Perkotaan dan Perdesaan. Kesmas: National Public Health Journal, 9(2), 157. https://doi.org/10.21109/ kesmas.v9i2.518

Gitayanti, R., Sulistyorini, L., & Hardiani, R. S. (2016). Dini di Desa Baletbaru Kecamatan Sukowono Kabupaten (The Experience of Primigravida Pregnancy with Child Marriage in Baletbaru Village of Sukowono District). Pustaka Kesehatan, 4(1). http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JPK/article/view/2538

Gumarang Malau, B. santoso. (2014). Faktor-faktor yang Berbungan dengan perkawinan usia muda dikelurahan penyengat rendah kecamatan Telanaipura kota jambi. Scientia Journal, 1, 4.

KUA Kabupaten Probolinggo. (2018). Data Perkawinan Kabupaten Probolinggo.

Ma’arif F. (2017). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sosial Budaya dengan Sikap Remaja Terkait Pendewasaan Usia Perkawinan. Jurnal Biometrika Dan Kependudukan, 7, 1.

Maemunah, S. Wulandari. (2021). Penerapan Pendewasaan Usia Perka-winan sebagai Upaya Pencegahan Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga. CIVICUS: Pendidikan-Penelitian, 9(1), 104–110. http:// journal.ummat.ac.id/index.php/CIVICUS/article/view/5564

Meiandayati, R., Nirmala, S. A., Didah, D., & Susanti, A. I. (2018). Kejadian Pernikahan Usia Dini Berdasarkan Karakteristik Dan Sosial Budaya Di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Tahun 2014. Jurnal Sistem Kesehatan, 1(2), 76–83. https://doi.org/10.24198/jsk.v1i2.18129

Munawara, Ellen Meianzi Yasak, S. I. D. (2016). Stereotip kesetaraan gender terhadap budaya pernikahan dini pada masyarakat Madura. Jurnal Pamator, 9(1), 15–18.

Nengsih, L. (2021). Dampak pernikahan dini terhadap kehidupan sosial ekonomi keluarga. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952.

Pohan, N. H. (2017). Faktor Yang Berhubungan Dengan Pernikahan Usia Dini Terhadap Remaja Putri. Jurnal Endurance, 2(3), 424. https://doi.org/10.22216/jen.v2i3.2283

Rahmat, A. I. S. (2017). Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap terhadap Pernikahan Dini Pada Remaja Putri Kelas Xi di SMA Negri 2 Wonosari Gunung Kidul. Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Rita, A. (2017). Sikap Remaja Putri terhadap Terhadap Pendewasaan Usia Perka-winan. Hubungan Bayi Prematur Dengan Kejadian Asfiksia Neona-torum, 4(2), 13–22.

Suhadi. (2013). Pernikahan Dini, Perceraian, Dan Pernikahan Ulang: Sebuah Telaah Dalam Perspektif Sosiologi. KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture, 4(2), 168–177. https://doi.org/ 10.15294/komunitas.v4i2.2412

Surat An-Nur Ayat 32. (2021). Https://tafsirq.com/24-an-nur/ayat-32.

Susanti, N. (2013). Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)Dengan Sikap Terhadap Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) Pada Siswa/i SMA Negri Dasussholah Banyuwangi. airlangga surabaya.

Syukaisih, S. (2017). Perilaku Pernikahan Dini Pada Remaja Di Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru. Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES, VIII(Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017), 156–160. http://forikes-ejournal.com/index.php/SF/article/view/160

Sumbulah, U., Jannah, F. (2012). Pernikahan Dini Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Keluarga Pada Masyarakat Madura (Perspektif Hukum Dan Gender). Egalita, 83–101. https://doi.org/10.18860/egalita.v0i0.2113

Veronica Sovita Sari, Suwarsito, M. (2015). Faktor-Faktor Penyebab Perkawinan Usia Muda Dan Dampaknya Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi di Desa Lebakwangi Kecamatan Pagedongan Kabupaten Banjarnegara. IV, 19–23.

Mubarak, W.I. (2013). Ilmu Sosial Budaya Dasar Kebidanan. In EGC, Jakarta (p. 195). EGC, Jakarta.

Downloads

Published

2022-02-28

Citation Check